Penamaan Gunung Medan tidak bisa dipisahkan dari legenda rakyat Datuak Rajo Kuaso. Legenda rakyat ini bercerita tentang kemarahan Datuak Rajo Kuaso kepada Raja Siguntur. Sebab kemarahan adalah asmara. Datuak Rajo Kuaso ditolak menjadi menantu olej Raja Siguntur. Menjelang matahari terbit Datuak Rajo Kuaso dengan kesaktian yang dimiliki memutar rumah Raja Siguntur membelakangi Batang Hari. Tak puas dengan memutar rumah Raja Siguntur, Datuak Rajo Kuaso mencabut peppohonan di satu hektar lahan sebuah bukit. Pohon-pohon itu dilempar jauh ke wilayah Sipangkur hingga ke daerah Riau. Setelah pohon ini tercabut karena kemarahan Datuak Rajo Kuaso, wilyah satu hektar ini menjadi tandus. Konon masyarakat menyebut wilayah tandus itu sebagai medan, Bukit itu sendiri karena menjulang tinggi dinamai Gunung. Dari sana nama Gunung Medan diambil. Di Puncak Gunung Medan tersebut terdapat dua batu besar yang dinamaknan Batu Kawin. Masih menurut cerita rakyat, dua batu ini berjarak pada siang hari, lalu pada malam hari batu ini menjadi bedekatan, dempet. Dari situ dinamamakan batu kawin, batu yang bisa kawin.